Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

1 Juli 2020

Strawberries & Cigarettes, P7

Strawberries & Cigarettes (Part 7)
.
by @AntonErl

Kalau boleh jujur, aku nyaris tidak bisa tidur pada malam pertama kemah. Keadaan sangat bising di luar. Orang- orang terlalu ingin bersenang-senang sampai larut hingga lupa kalau besok masih banyak agenda yang harus dilakukan. Setelah permainan tangkap bendera antar regu, tarik tambang, adu gulat, dan segala permainan yang bisa dilakukan seorang anak pramuka, aku benar-benar butuh tidur.

Aku hanya bertemu sebentar dengan Pringgo saat Malam Api Unggun, karena dia sibuk juga dengan kegiatan regunya. Hari kedua kemah akan diagendakan sepenuhnya untuk Mencari Jejak, dan regu yang berangkat duluan harus menebak kode bendera semafor yang akan didemonstrasikan esok pagi-pagi sekali.

Aku tidak ingin reguku berangkat yang paling akhir, jadi kugunakan malam itu untuk menghafal kembali kode semafor yang ada di bukuku. Aku tidak yakin aku bisa mengandalkan teman-teman reguku dalam masalah ini kalau mereka masih menyanyi-nyanyi dan keluyuran di luar sekarang. Aku sedang mengingat-ingat gerakan huruf "H" saat seseorang masuk ke dalam tenda yang sepi. Hanya ada aku di dalam tenda itu.

Ternyata Lutfi. Sepertinya dia baru saja kembali dari sekretariat. Dia langsung menuju tempatnya. Lutfi telah memilih satu spot di sudut untuk menaruh barang-barangnya. Ia mengamati keadaan tenda setengah gelap yang hanya diterangi senter itu sebentar sebelum mengeluarkan satu-satunya kalimat darinya yang ditujukan padaku hari itu;

"Sebaiknya kau rapikan tendamu, penilaian tenda bakal dilakukan saat kalian mencari Jejak besok,"

Ia tidak menunggu jawaban dariku dan langsung tidur. Aku menghela napas. Pikiranku baru saja mencerna bahwa aku tengah berdua saja di dalam tenda bersama Lutfi. Ini pertama kalinya sejak terakhir aku berhadapan dengannya saat mencuri korek api miliknya beberapa waktu lalu.

Kira-kira apakah dia sudah melupakan perbuatanku, ya? Aku tidak memergokinya merokok akhir-akhir ini.

Sedikit menyesakkan dada memikirkan aku bisa berada sedekat ini dengan Lutfi, tapi di saat yang sama aku merasa kami begitu jauh. Beberapa kejadian belakangan yang melibatkan kami berdua tidak berlangsung baik buatku.

Aku melanjutkan hafalan semafor.

Pukul dua malam aku belum juga terlelap, teman-teman reguku telah kembali semuanya dan tidur berdempetan menyesaki tenda, setelah dipaksa tidur oleh para guru dan beberapa pimpinan Sangga dari golongan Penegak.

Aku mengeluarkan satu-satunya korek api yang tersisa dari koleksi Lutfi dan memutar-mutarnya di dadaku. Aku telah menempeli korek itu dengan stiker bergambar stroberi kecil dan bertekad tidak akan mengembalikan korek itu pada Lutfi sampai kapanpun.

Aku menoleh pada bayangan gelap Lutfi yang sedang terlelap di sudut. Aku berpikir sebetulnya dia bukan pembina pramuka yang buruk. Dada Lutfi naik turun sementara ia bernapas dalam tidurnya.

Pacar Lutfi barangkali sedang kuatir saat ini, karena tempat kemah kami berada sekarang sangat minim sinyal. Mereka takkan bisa saling berkabar.

Malam semakin dingin. Sudah sangat larut, aku sedang berusaha memejamkan mataku rapat-rapat saat sayup-sayup kudengar suara seseorang memanggilku dari luar tenda.

"Ris? Kau sudah tidur?"

Itu suara Pringgo. Aku berhati-hati melongok keluar dari mulut tenda dan mendapatinya masih berpakaian lengkap di halaman kavling reguku. Dia memakai jaket dan membawa senter.

"Ambil jaketmu. Temanin aku keluar yuk? Aku nggak bisa tidur." Dia berbisik rendah.

Dengan super hati-hati aku melangkahi teman-temanku dan juga Lutfi yang terlelap, sebelum menyambar jaketku dari gantungan. Kupikir aku tidak sengaja menyenggol sisi siku Lutfi saat keluar. Dalam satu detik yang sangat ngeri kupikir ia terbangun, tapi ternyata itu hanya persangkaanku. Lutfi masih memejamkan mata saat dalam diam aku memakai sandal. Aku menenangkan diri. Dalam sekejap aku sudah diluar bersama Pringgo. Kami berjalan meninggalkan tenda.

"Mau kemana?" tanyaku.

Pringgo tidak menjawab. Dia mematikan senternya saat kami diam-diam melewati beberapa kavling tenda lain yang diterangi banyak lentera dan lampu minyak. Ada beberapa murid lebih tua yang tergabung dalam Sangga yang berjaga. Kami mengendap-endap mengambil jalan pintas di sisi lain bumi perkemahan yang tidak dijaga.

Ide untuk menyelinap ini sedikit banyak menggairahkan. Bau belerang tercium oleh indera penciumanku dari suatu tempat. Pringgo membawaku ke bekas api unggun yang masih membara. Ada bekas-bekas kulit ubi dan jagung bakar berserakan. Kami bersembunyi dibalik beberapa pohon yang melingkupi tempat upacara api unggun tadinya berlangsung.

Malam yang dingin jadi sedikit lebih hangat akibat bara api. Dari tempatku duduk aku agak was-was oleh apa yang akan terjadi seandainya aku dan Pringgo ketahuan, tapi paling banter kami hanya akan dimarahi. Jadi kurilekskan diriku.

Aku melihat keatas. Langit terlihat sangat dekat dari sini. Awan dan bintang kelihatan lebih jelas dari biasanya. Sesaat aku dan Pringgo hanya ngobrol biasa. Setelah lewat setengah jam, aku mulai kuatir bahwa kami akan ketahuan, karena aku mendengar suara seperti langkah kaki mendekat. Lalu Pringgo mengeluarkan benda yang bisa menjadikan segala sesuatunya menjadi runyam: Pringgo menyulut rokoknya.

"Gila kau ya. Sekarang bukan waktu yang tepat, Prin." Aku memberitahunya.

Dia meng"sshh"ku, tapi aku tidak mengindahkannya.

"Belum ada sebulan kau ngrokok. Itu urusanmu, tapi jangan disini dong." Aku mengingatkannya, seandainya dia lupa, bahwa ada lebih dari separo staf guru yang berkumpul disini dan kami bisa saja kepergok sewaktu-waktu. Berada di luar tenda jam segini saja bisa diartikan mengundang masalah.

"Tadi orangtuaku nyusul kesini," Pringgo bercerita.

"Hah? Kapan?" kataku. Perhatianku serta merta teralih.

Pringgo sudah tidak bicara dengan orangtuanya sejak ia diusir beberapa bulan yang lalu, setelah orangtuanya tahu bahwa dia gay.

"Waktu kalian sibuk main-main sore tadi," terangnya.

Aku ingat saat mendengar nama Pringgo dipanggil dari speaker sekretariat segera setelah tarik tambang usai, tapi belum menanyakan pada anak itu hingga sekarang. Ternyata itulah sebabnya.

"Jadi? Untuk apa mereka kesini?" tanyaku.

"Mereka sengaja kesini dan meminta maaf padaku. Kami ngobrol banyak. Tapi intinya setelah kemah ini usai aku dibolehkan pulang ke rumah, mereka bakal menjemputku." jelas Pringgo singkat.

Aku menekap mulutku. Pringgo tersenyum bahagia. Yang lebih baik lagi, dia kelihatan sangat lega.

"Mereka bakal ke rumahmu untuk bertemu Ibumu dan berterima kasih karena sudah menampungku selama ini. Mereka juga ingin bertemu denganmu." Pringgo berkata riang.

Aku benar-benar bahagia mendengarnya.

"Aku turut bahagia buatmu." kataku.

Aku beringsut memeluk Pringgo dengan erat. Ia balas memelukku. Kami begitu selama beberapa saat sampai ada seseorang yang menginterupsi.

"Seharusnya kalian tidur." kata sebuah suara dingin.

Aku membeku di tempatku. Suasana yang menyenangkan berubah dalam sekejap. Lutfi telah menangkap basah kami. Aku buru-buru melerai pelukan, tapi Pringgo bahkan tidak repot-repot menyembunyikan rokoknya.

"Jangan sampai kulaporkan kalian pada guru." ancam Lutfi.

"Silakan saja." Pringgo menantang.

Lutfi berdiri tidak jauh dari retihan api yang masih menyala dari sisa api unggun. Ia menatapku tajam.

"Maaf menganggu saat romantis kalian. Aku tidak peduli kalau seandainya kau bukan anggota regu yang kujaga. Tapi aku ingin kau camkan di kepalamu yang bloon itu, kalau kau masih tanggung jawabku. Aku bertanggungjawab soal keselamatan regumu, tapi kau malah bersikap egois dan bermesraan dengan pacarmu begini." Lutfi berkata pedas.

"Dia bukan pacar-" Aku berusaha menyanggah.

"BALIK. KE TENDA. SEKARANG!" Lutfi membentak.

Aku langsung terdiam, tidak mampu berkata-kata. Aku mengembik dan nyaris menangis saat berpamitan pada Pringgo, yang menatap Lutfi dengan penuh benci.

Di perjalanan kembali ke tenda, saat Pringgo menghilang dari pandangan, Lutfi mulai berkata sinis. Sepertinya Lutfi belum puas memarahiku.

"Enak sekali kau berbuat mesum saat tak ada yang melihat. Kau pikir tempat kemah ini milik nenek moyangmu, eh? Kalau ada apa-apa bagaimana?"

Walau seandainya bukan, Lutfi tidak perlu berkata sekeras itu, meski aku pantas menerimanya. Aku ingin menjelaskan bahwa yang kulakukan bersama Pringgo hanya berpelukan biasa, bukan sesuatu yang mesum atau tidak wajar, tapi merasa hal itu sia-sia saja. Jadi niat itu kuurungkan.

Lutfi berjalan di belakangku, mengawasi. Aku merasa tidak nyaman. Aku tidak tahu apakah aku sial atau beruntung karena Lutfi-lah yang menemukanku. Tapi semoga saja dia tidak melaporkanku.

Kami akhirnya sampai di tenda.

"Kembalilah tidur. Jangan kemana-mana lagi." katanya, kini dengan suara yang lebih sabar.

Selain caciannya, sepertinya aku tidak mendapat masalah yang lebih buruk. Aku lega karenanya. Aku tidak bisa berharap lebih dari itu.

Lutfi memastikan tidak ada lagi anak yang keluyuran dengan berjaga di luar. Aku sedikit kaget karena tenda yang tiba-tiba terasa lebih hangat dari sebelumnya. Aku berangkat tidur dengan lebih mudah kali itu, dan hal terakhir yang kuingat sebelum memejamkan mata adalah bayangan Lutfi dan raut wajahnya saat menangkap basahku. Dia kelihatan sedikit cemburu. . Ataukah kecewa? Aku tidak cukup yakin soal yang pertama. Aku tidak ingin kegeeran. Tapi kenapa dia kecewa persisnya? Rasa penasaranku tidak cukup besar untuk mengatasi kantuk yang menyerang, karena detik berikutnya aku terlelap.
.
.

(bersambung)

Readmore → Strawberries & Cigarettes, P7

Strawberries & Cigarettes, P6

Strawberries & Cigarettes (Part 6)


Bulan November tiba dan kemah bakti yang telah ditunggu semua orang akhirnya bakal dilaksanakan. Bahkan para guru, yang menjadi galak akhir-akhir ini gara-gara murid yang tak bisa diatur, bisa lebih rileks pada pagi hari sebelum keberangkatan.

Mereka rupanya menganggap bahwa mereka pantas bersenang-senang juga. Aku tahu betul kebanyakan orang akan menggunakan kemah ini sebagai kesempatan untuk hura-hura, jadi aku tidak akan repot-repot mengomentari kelakuan mereka.

Aku akan menjadi anak sebaik mungkin dan mengurusi urusanku sendiri. Sejauh ini aku tidak diganggu, kecuali Pringgo yang bolak-balik mengekorku bisa disebut gangguan. Semenjak aku patah hati tempo hari, rupanya dia bertekad untuk menjagaku, agar aku tidak bertambah sedih.

Sebetulnya dia tidak perlu repot-repot. Karena atmosfer kemah bakti, bahkan aku kesulitan untuk merasa sedih karena terbawa suasana. Seperti yang lain, aku akan bersenang-senang juga.

Satu jam sebelum keberangkatan semua orang berkumpul. Aku bisa melihat beragam jenis orangtua yang mengantar anak-anak mereka. Ada yang luar biasa ribut, ada yang santai, ada yang menangis histeris karena harus berpisah dengan anak mereka.

Aku dan Pringgo hanya bisa memutar bola mata. Para orangtua itu sudah keterlaluan. Sebagian kakak pembina pramuka ikut menertibkan orangtua ini, yang sama susah diaturnya seperti anak mereka. Mereka menyita barang-barang yang tidak perlu dibawa seperti TV portabel dan kasur busa, karena dirasa berlebihan. Ibuku sendiri tidak ikut karena dia sudah mempercayakan Pringgo untuk menjagaku. 

"Kemping ini hanya tiga hari! Bapak Ibu tidak perlu kuatir, kami menjamin keselamatan semua peserta. Mereka juga takkan kekurangan hiburan, saya yakin." ujar ketua pembina, membentak para orangtua yang agak berlebihan soal anak mereka. 

Lutfi yang terlihat paling santai dari semua orang itu. Dia kelihatan lebih lega setelah semua persiapan kemah rampung. Beban menjadi panitia pastilah berat sekali. Sesekali Lutfi memandang kepadaku, tapi aku tidak bisa mengartikan tatapannya. Mungkin aku hanya kegeeran.

Setelah empat jam perjalanan kami sampai di bumi perkemahan. Kami naik bus melewati pegunungan Kendeng di utara. Ternyata bumi perkemahan itu berada di dekat bekas kompleks pelataran candi Hindu di masa lampau. 

Hal yang membuatku senang, dari jendela bus kulihat tempat kemah kami ternyata berada dekat dengan kebun stroberi yang menghampar. Tapi yang lebih mencengangkan lagi, ada juga kebun tembakau di sebelah kebun-kebun stroberi itu.

"Kok ada tembakau disini sih? Emang nggak terlalu dingin disini buat ditanemin tembakau?" tanyaku, melihat keluar jendela.

"Nggak, ini kan hitungannya masih musim kemarau. Nanti kalau sudah Desember udah musim hujan daunnya juga habis." kata Pringgo.

Bus yang kami tumpangi tidak bisa naik lebih tinggi karena tanjakan yang kelewat terjal. Kami diharuskan turun dan membawa sendiri barang bawaan kami menuju bumi perkemahan. Aku berpisah dengan Pringgo, karena dia harus bergabung dengan regunya.

"Baik-baik ya, sampai ketemu nanti waktu api unggun." Pesannya.

"Iya." jawabku pendek.

Pringgo mengacak rambutku sebelum pergi. Aku bergabung dengan sepuluh orang yang bergabung menjadi satu regu dalam kelasku.

Perlu satu jam penuh untuk mendirikan tenda. Hal yang susah dilakukan, karena semua orang merasa ingin membantu. Semua merasa paling pintar dalam simpul tenda, sehingga sulit menentukan apakah perdebatan soal simpul yang seharusnya digunakan justru lebih lama dari mendirikan tenda itu sendiri. Tapi ternyata tenda kami bakal ikut dinilai dari kecocokan simpulnya, karena regu dari kavling di sebelah kami ikut berdebat soal hal yang sama.

Dari tenda regu-ku, aku bisa melihat orang sedang membalik tembakau yang dijemur dari kejauhan. Tembakau-tembakau yang telah dirajang dijemur hingga kering di pinggir jalan yang terik. Di sisi lain ada orang yang memanen stroberi, berkarung-karung jumlahnya. Aku bertanya-tanya apakah kami bakal diizinkan mengunjungi kebun itu.

Setelah selesai, makan siang dibagikan khusus untuk siang itu, sebelum kami diijinkan untuk memasak sendiri pada sore hari. Hal itu bertepatan dengan pembagian pembina pramuka yang akan menjadi pemandu kami selama tiga hari kedepan, dan hatiku mencelos saat seseorang yang menjadi subjek pikiranku akhir-akhir ini datang menuju tenda regu-ku.

"Regu Banteng?" tanya Lutfi. Ia menghampiri regu kami yang tengah menyantap makan siang di depan tenda dengan gaya cueknya yang khas.

Kami serempak mengangguk.

"Baiklah." Lutfi sekilas mengerlingku. "Aku yang bakal jadi pemandu pramuka kalian nanti. Silakan selesaikan makan. Kalian punya waktu bebas sampai jam tiga sore sebelum apel upacara pembukaan di atas."

Lutfi menunjuk tanah lapang di dekat gerbang kompleks candi. Ia lalu membagikan jadwal susunan acara untuk tiga hari kedepan.

"Ada yang mau ditanyakan?"

Kami semua menggeleng. Lutfi melanjutkan bicara,

"Kamar mandi ada di sisi Barat. Kalau kalian perlu bantuan atau ada yang sakit, silakan hubungi sekretariat di Pendopo." katanya sebelum pergi.

Aku tidak tahu bagaimana menanggapi kabar menyenangkan ini. Aku melihat kertas bertuliskan "Regu Banteng, Pemandu: Lutfi." yang kini dipajang di mulut tenda.

Dengan Lutfi sebagai pemandunya, itu artinya dia akan tidur satu tenda dengan kami. Aku luarbiasa deg-degan. Sambil menunggu jam tiga aku mengunjungi tenda yang lain.

Beberapa orang kelihatannya lebih sial dari regu yang lain, karena mereka mendapat medan yang berbatu sebagai tempat kemah, atau cukup beruntung untuk dekat dengan kantin dan kamar mandi.

Lima menit sebelum pukul tiga tepat aku mendengar siren dari lapangan atas. Aku yang sedang berdiam diri di tenda Pringgo yang sepi, bergerak menuju tendaku sendiri dan berganti pakaian pramuka. Aku berlari dengan sesama anggota reguku, membawa tongkat pramuka kami menuju lapangan. Kemegahan sinar matahari sore memenuhi kompleks candi, membuat tempat itu kelihatan magis.

Aku membaui udara pegunungan yang sejuk. Kucari Lutfi di barisan pembina pramuka tapi aku tidak melihatnya. Pringgo mengerling padaku dari barisan regunya dan aku melempar senyum. Di sebelahku semua orang ramai berceloteh. Satu menit kemudian semuanya mendadak hening, hanya terdengar hentakan tongkat pramuka yang digerakkan untuk memberi hormat pemimpin upacara yang mulai memasuki lapangan.

Aku merasa bergairah. Apel pembukaan kemah bakti akan dimulai.

.
.
(bersambung)





Readmore → Strawberries & Cigarettes, P6

19 April 2020

Strawberries & Cigarettes, P5

Strawberries & Cigarettes (Part 5)

by @AntonErl

.

"Mana yang lebih dulu ada Ris? Telur atau ayam?"

Pringgo berusaha menghiburku selama hari-hari berikutnya. Aku tidak menggubris tingkahnya sama sekali. Libur tengah semester kali ini tidak seasyik biasanya. Belum pernah aku sesedih itu sejak aku mendapat nilai Sastra dibawah delapan puluh.

Kami menghabiskannya dengan di rumah sepanjang waktu. Selain ruang tamu, halaman depan, dan halaman belakang, aku tidak pergi kemana-mana. Aku tidak ingin kemanapun untuk menghibur diriku. Pringgo juga tidak berniat pulang ke rumah orangtuanya. Ibuku tidak sekalipun mempermasalahkan ini. Karena tidak ada anak selain aku di rumah, Pringgo jadi bisa diandalkan.

Sejak kabur hampir dua bulan lalu, orang tua Pringgo tidak pernah sekalipun mencari anak mereka. Aku terlalu sedih dan patah hati untuk mengerjakan PR-PRku, tapi Pringgo dengan setia menggantikanku merampungkan tugas sekolah yang seharusnya kukerjakan. Aku merasa para guru tega sekali karena membebani kami dengan tugas bahkan pada saat liburan. Ditambah hatiku yang sedang patah hati, liburan kali itu benar-benar memprihatinkan.

"Ceria dong, Ris. Bentar lagi kita kan kemping. Nggak usah menangisi si Lutfi yang tolol itu,"

Walau nasehat Pringgo ada benarnya, susah untuk mendengarkan nasehat itu kalau kau sedang pilek gara-gara kebanyakan menangis. 

"Aku yang tolol," kataku, suaraku agak bindeng. "Bukan salah Lutfi kalau dia naksir cewek itu. Lagian aku siapa sih?"

"Kau? Kau itu Pria Al-Farisi. Siapa yang nggak kenal kau di sekolah?" kata Pringgo membesarkan. "Juara kelas. Nggak pernah neko-neko. Suka selai stroberi. Nggak pernah merokok. Murid teladan sejati pokoknya. Calon mantu ideal. . "

Aku sedikit tersenyum oleh kalimat Pringgo yang terakhir.

"Aku nggak punya banyak teman di sekolah." kataku. Pringgo menganggap ini bukan suatu masalah.

"Jangan menyalahkan dirimu karena anak-anak yang tak tahu pergaulan benar itu. Kau lebih baik tidak berteman dengan mereka."

Aku tersenyum. Pringgo benar-benar tidak membiarkanku patah hati sendirian akhir-akhir ini. Dia juga bercerita padaku tentang seseorang yang membuat hatinya galau.

"Tembak dong, kalau gitu." Aku menyarankan.

"Dia suka sama orang lain," katanya. Pringgo tersenyum kecut, mencoba menghibur diri.

Aku bersimpati padanya karena nasib kami ternyata sama.

Pringgo lalu menyulut rokoknya. Dia menepati janjinya untuk hanya merokok sebulan sekali, tapi aku tetap tidak senang melihatnya.

Kami menggelar tikar di halaman belakang dan berjemur dengan pakaian lengkap diatasnya. Mempunyai halaman belakang benar-benar sebuah keuntungan. . Aku benar-benar bersyukur soal ini, karena berapa banyak sih orang  yang mempunyai halaman belakang yang layak di Selak? Jelas tidak banyak.

Aku menyetel lagu-lagu The Es Kopjor dan Coldplay yang kubeli dari toko kaset bekas yang menjual CD lawas. Ketika lagu The Scientist muncul di daftar putar aku mulai menitikkan airmata.

"Nobody said it was easy. . It's such a shame for us to part. ."

Disampingku Pringgo ikut berlinang air mata. Seperti kebanyakan orang, lagu itu punya arti khusus buat kami, bahkan Ibuku. Aku diam-diam sering memergoki Ibu menyetel kaset itu jika dia kangen Ayah. . Aku bisa mengerti perasaannya.

Aku membandingkan Ibuku dengan Lutfi. Mana yang lebih menyakitkan? Tidak bisa bersama dengan seseorang yang kau cintai, atau masih mencintai seseorang yang sudah meninggal?

Ah. Aku merasa diriku lebih beruntung dalam kasus ini. Karena Lutfi masih hidup dan aku masih bisa melihatnya bernapas dan bahagia, walau dari jauh, walau dia mencintai orang lain, walau aku tak bisa bersama dengannya. Bagaimana dengan Ibu? Di sisi lain dia juga lebih beruntung karena pernah memiliki Ayah. Walau kisah mereka tinggal kenangan. . Setidaknya Ibu punya memori yang hangat tentang Ayah untuk diingat-ingat.

"Dulu aku biasa aja waktu dengar lagu ini. . Tapi waktu The Scientist dibawain sama Glee, aku jadi lebih paham isinya. " kata Pringgo, menyeka sudut matanya. "Lagu ini emang berarti."

Aku mengangguk. Dalam hati aku berpikir Pringgo ternyata gay sekali, menonton serial Glee.

Kami menghabiskan dua hari terakhir liburan tengah semester untuk mengepak segala tetekbengek barang-barang yang akan dibawa untuk keperluan kemah. Ibu membantu kami menemukan sebanyak mungkin kaus kaki dan jaket karena sekolah kami akan kemping di tempat yang dingin. Aku memastikan tidak ada satupun pakaian atau bawaan yang wajib dibawa dalam daftar tertinggal kalau aku tidak ingin dihukum begitu sampai disana. Saat melipat selimut aku menemukan sisa satu korek api milik Lutfi yang tersembunyi di balik seprei. Aku mengingatnya sebagai korek pertama milik Lutfi yang dulu kuambil. Aku mendekap korek itu didadaku erat-erat, membayangkan pemilik korek itu mendekapku, berharap bahwa Lutfi mengetahui betapa aku menyukainya.

()





Readmore → Strawberries & Cigarettes, P5

Strawberries & Cigarettes, P4

Strawberries & Cigarettes (Part 4)

by @AntonErl

.

Oktober, yang diperingati setiap tahun sebagai bulan bahasa, disambut dengan kurang antusias oleh murid-murid SMA Selak. Latihan Pramuka mendadak dipenuhi anak-anak yang membuat puisi, karena pembina mewajibkan mereka menyumbangkan sedikitnya satu karya murni, ditujukan untuk seseorang.

Sebagian besar anak laki-laki berpikir bahwa membuat puisi adalah kegiatan yang payah (dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kepramukaan) tapi toh mereka tetap menulis sepuluh baris penuh kata-kata bernada kurang ajar yang ditujukan untuk kakak senior yang paling mereka benci.

Anak-anak ini, yang baru saja puber dan mendapat lonjakan hormon testosteron berbulan-bulan lalu, kelakuannya nyaris tak bisa dikendalikan. Mereka membuat keributan di kelas-kelas dan membuat para guru kewalahan.

Sulit untuk menentukan siapa yang lebih marah karena rencana kemah mereka ditunda gara-gara bulan bahasa ini. Walau sudah jadi rahasia umum di kalangan anak kelas dua bahwa pramuka adalah ekstrakurikuler paling dibenci, mereka tetap antusias jika menyangkut soal kemping.

Aku dan Pringgo sendiri menganggap segala situasi ini sangat lucu. Kami menulis surat ancaman anonim yang ditujukan kepada kepala sekolah sebagai lelucon, yang bunyinya kira-kira begini:

kEpad4 B4p4k K3p4La sEk0lah y4n9 tErH0Rm4t, k4m1 s3L4kU mUr1d y4n9 T3rG4bUn6 d4LaM k0mUn1T4s LEsB14n, g4y, b1sEXu4L & tR4nS9eNDeR b3rm4kSud mEng1nV4sI & m3n9amB1L 4LiH s3k0L4h !

AnD4 t3RLiH4t s4n9at b0d0H s4aT b3rp1d4t0 b4Hw4 L9BT 4d4LaH pR0dUk bUd4y4 B4R4T !

4nD4 t1d4K p3Rn4H b3LaJ4R sEj4RaH b4Hw4 L98T t3L4h m3nj4D1 b49iAN bUd4Y4 NuS4nT4Ra s3L4mA bERaTu5 - rAtu5 4B4d !

Kami menyelipkan surat itu ke balik pintu ruang kepsek yang penuh sesak oleh piala. Entah bagaimana surat itu lalu dimuat oleh redaksi di majalah sekolah minggu berikutnya. Rupanya Kepsek tidak kalah pintar. Ia membuat jebakan di papan pengumuman yang ditulis huruf besar-besar bahwa yang mengirimkan surat itu berhak mendapatkan beasiswa, karena berhasil membuat kepala sekolah  menyadari kebodohannya.

Saat Pringgo mengajukan klaim bahwa dia-lah yang mengirim surat itu, dia tidak mendapatkan beasiswa apapun, malah mendapat tambahan skors seminggu lagi. Kepala sekolah telah menipunya.

Kabar baiknya, anak-anak yang tadinya menyindir Pringgo ketika foto ciumannya beredar, dan yang sering mencemoohnya setelah tahu bahwa dia gay, kini berbalik menyukainya. Beberapa guru juga ikut membela Pringgo. Guru Seni dan Sejarah, Pak Pri, memberi Pringgo nilai A plus di rapor ulangan tengah semester miliknya karena ia paham sejarah seni queer yang telah ada sejak jaman pra penjajahan. Berbagai kesenian seperti Ludruk, Tari Lengger Lanang, Reog Ponorogo, semuanya mengedepankan aspek estetika dimana laki-laki mengambil peran perempuan.

Aku tidak berhenti tertawa membaca suratku dan Pringgo yang dimuat di majalah. Karena masih dalam masa skors, aku membawa pulang nilai ulangan tengah semester milik Pringgo yang sudah keluar. Malam itu juga aku mengajaknya ke konser The Es Kopjor, band pop-rock lokal yang sedang naik daun, dari uang honor surat kami yang dimuat. Kami tetap berhak atas honor surat itu, setelah aku menagihnya ke redaksi sekolah.

Lutfi, sementara itu, rupanya tengah disibukkan dengan persiapan rencana kemah mereka awal November depan. Aku bisa melihat dia sedikit lega karena acara itu ditunda.

Kini aku bermaksud mengembalikan korek miliknya, atas saran dari Pringgo. Aku bukannya mendukung kalau Lutfi merokok, tapi aku setuju pada gagasan bahwa ideku akan berhasil kalau aku berhenti bersikap menyebalkan.

Aku membawa korek milik Lutfi kemana-mana. Ke kantin, ke perpustakaan, ke latihan Pramuka. Tapi setiap aku ingin mengembalikan korek itu nyaliku langsung ciut oleh tatapan Lutfi yang mengintimidasi.

Lutfi seperti telah bertekad bahwa ia tidak ingin ngomong padaku selamanya. Hatiku mencelos memikirkan ini.

Di konser The Es Kopjor yang penuh sesak oleh penonton, kami menemukan Lutfi datang ke venue bersama seorang perempuan. Pringgo dan aku ada di barisan depan, aku bermaksud mengikuti Lutfi ke belakang ke tenda panggung untuk mengembalikan koreknya.

Saat aku menyingkap kain yang menutupi salah satu stand, Lutfi berada dibaliknya, sedang mencium perempuan yang diajaknya ke konser tadi. Aku mengenalinya sebagai anak perempuan dari sekolah lain. Mereka kaget dan langsung melerai diri masing-masing.

"Ah, sori. . aku nggak bermaksud-" Aku berjalan mundur dan langsung pergi. Kepalaku pusing berusaha mencerna kejadian barusan.

Konser berlangsung dengan meriah, tapi hatiku sedang tidak bahagia. Aku hanya duduk lesu sementara Pringgo mencoba menghiburku.

Aku pulang dengan resah dan patah hati, ditemani Pringgo yang mencoba bersimpati. Kami sudah ada di parkiran saat Lutfi melihatku. Dengan kasar dia menarikku ke pinggir dan menghimpitku diantara pohon Akasia yang meneduhi tempat parkir.

"Apa maksudmu, eh? Kenapa kau selalu mengikutiku?" kata Lutfi.

Pringgo datang bergegas untuk melerai.

"Aku cuma mau balikin korek milikmu!" kataku, meminta maaf. Aku buru-buru merogoh benda itu di saku dan menyerahkan paksa benda itu padanya.

Aku langsung melepaskan diri dan berlari menuju Pringgo. Anak itu memboncengku di depan sementara kami pulang. Aku menangisi Lutfi di perjalanan pulang.

Pringgo berhenti sebentar di tempat yang sepi untuk memelukku. Dia diam saja sementara aku menangis di dadanya.

()

Readmore → Strawberries & Cigarettes, P4

15 April 2020

Strawberries & Cigarettes, P3

Strawberries & Cigarettes (Part 3)

by @AntonErl

.

Kendati terakhir kali aku sangat membenci perlakuan Lutfi kepadaku, nyatanya aku masih mengidolakannya pada hari Senin berikutnya. Kebencianku hilang entah kemana dan digantikan perasaan takut kalau-kalau Lutfi akan kembali membalas dendam.

Tapi ketakutanku rupanya tidak terbukti.

Lutfi kembali tidak mengacuhkanku seperti sebelumnya. Entah aku harus sedih atau senang soal ini. Aku tidak pernah lagi melihatnya merokok di koridor lantai tiga sejak terakhir kali aku mencuri koreknya. Dia pindah ke tempat lain, barangkali.

Masalahku beralih dari Lutfi ke temanku yang akhir-akhir ini uring-uringan karena dia baru saja diliburkan sementara.

Bagi seorang gay, apa sih yang lebih menyusahkan dari orang tua yang homofobik? Pringgo sangat mengerti masalah ini, dan dia juga ingin orang-orang paham, terutama para orang tua di luar sana.

Pringgo masuk sekolah pada tanggal sepuluh Oktober hanya untuk diberitahu kalau dia ternyata diskors, karena fotonya yang berciuman dengan anak laki-laki dari sekolah lain beredar luas di dunia maya.

Foto itu menghebohkan grup WA sekolah dan keluarga seantero Selak, dan para orangtua kuatir kalau-kalau sekolah tempat anak mereka menempuh pendidikan ternyata darurat LGBT.

Ini konyol sekali.

Kurikulum tidak memuat pendidikan berbasis gender dan seksualitas, dan para orangtua berharap bahwa anak mereka terhindar dari LGBT? Yang benar saja.

Guru seni dan sejarah sekolah kami, Pak Pri, adalah yang paling serius menyuarakan pembelaan sekolah terhadap orang tua yang menuding bahwa para guru telah lalai.

"Orang tua seharusnya mengenal betul pergaulan anak mereka! Hal itu sama sekali diluar tanggung jawab sekolah. Kami ini guru akademik, sementara moral manusia adalah tanggung jawab masing-masing!"

Sementara aku dan Pringgo terbahak-bahak menertawakan kebodohan para guru dan orang tua itu, ada hal lain yang perlu dikuatirkan.

Gara-gara insiden foto Pringgo yang tersebar itu, hubungan Pringgo dengan orangtuanya merenggang. Dia kabur dan menginap sementara di rumahku. Ibuku, yang tidak luput mendengar kabar soal Pringgo, tidak ambil pusing soal itu dan menerima Pringgo menginap di rumah kami selama yang ia mau.

Aku, yang daridulu mengharapkan kehadiran seorang kakak di rumah, tentu senang dengan kehadiran Pringgo. Tapi Pringgo jadi lebih sering membandingkan kehidupannya dengan kehidupanku.

"Enak ya punya Ibu seperti Ibumu. Dia bisa menerima kalau anaknya istimewa."

"Istimewa gimana?"

"Yeah, kita 'kan gay. Itu artinya kita istimewa." Pringgo berujar.

"Biasa aja deh." kataku. Pikirnya gay itu martabak, istimewa?

"By the way, gimana tuh Kak Lutfi-mu tersayang? Ada kemajuan apa sama dia?"

"Dia kayanya makin benci setelah aku coba ubah kebiasaannya ngrokok. Aku coba ambil koreknya yang diumpetin, tapi akhirnya ketahuan kalau aku yang ambil."

"Kamu salah langkah deh, Ris."

"Emang harusnya aku gimana?"

"Ya, jangan langsung mengharap dia berubah sesuai kemauanmu. Kalau kau menghasutnya untuk benci rokok, dia bukan jadi benci rokoknya, dia malah benci kau. Menurutnya kau hanya orang yang menyebalkan."

Pringgo mengatakannya dengan nada seolah-olah yang kulakukan fatal sekali. 

"Gitu ya?"

Pringgo mengangguk, "Buat dia suka kau dulu. . " katanya.

Ia lalu mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya. Pringgo menyulut rokok itu dari korek api yang kusita dari Lutfi.

"Jangan bilang Ibumu. Nanti aku diusir." Pringgo mewanti-wanti.

 "Loh, kau ngrokok Prin?" Aku menjitaknya. "Sejak kapan?"

Pringgo mengusap-usap bagian kepalanya yang bekas kujitak.

"Santai dong, Ris. Aku ngrokok paling sebulan sekali. Aku nggak kalap atau norak macam orang-orang kok. Sehari sebungkus. . Gila aja. Aku tuh classy,"

"Halah, kontol. Sejak kapan ngrokok?" Aku menghardiknya, "Kok kau jadi goblok gini sih? Gay itu stigma-nya pinter loh. Kau malah ngrokok,"

"Apa hubungannya gay sama pinter sama rokok? Gay yang ngrokok juga banyak. Yang goblok apalagi."

Pringgo meniupkan asap rokok ke wajahku. "Ibumu tuh unik ya, beda sama orang tua lain. Anaknya gay diterima, tapi kalau anaknya perokok malah ditendang dari rumah." Dia tertawa.

"Lucu deh jadi kau, Ris."

"Hadeh. . " Aku mengerutkan dahi, "Soalnya Bapakku dulu meninggal karena kebanyakan ngrokok sih. . Ibu sedih lama banget. Bapak masih muda waktu meninggal soalnya. . Dan aku cuma anak satu-satunya. Makanya Ibu jadi sayang banget sama aku. Dia bilang yang penting aku bahagia, nggak mau ngekang, tapi kalau soal rokok emang dia agak ketat, sih."

Aku mengangkat bahu. Di sampingku Pringgo merangkulku.

"Good for you, Ris." Ia berkata.

Aku menggunakan kesempatan itu untuk merebut rokok Pringgo dari mulutnya dan melempar benda itu ke luar jendela.

"Anjir, itu punyaku yang terakhir. . ! Ris, gimana sih!?"

"Bodoamat."

Aku merebut korek api milik Lutfi dari Pringgo dan menggenggamnya erat-erat.

()

Readmore → Strawberries & Cigarettes, P3

14 April 2020

Strawberries & Cigarettes, P2

Strawberries & Cigarettes (Part 2)

By @AntonErl

.
.

Di rumah, aku berjalan ke kamar, dan ketika meletakkan tas pandanganku tertuju pada berbagai korek api milik Lutfi yang telah kuambil tanpa izin.

Apakah aku telah berbuat keliru?

Aku berganti baju dan merayap menuju tempat tidur, berpikir. Mengapa aku melakukan ini, pikirku? Betulkah aku menyita korek api Lutfi karena memang peduli padanya, ataukah aku hanya ingin memuaskan egoku?

Menghela napas, di tempat tidur aku memposisikan diriku menjadi telentang.

Memang, merokok tidaklah sehat. Tapi banyak hal lain yang juga tidak sehat. Aku tidak menganggu orang-orang yang makan arumanis, walau makanan itu nyaris tidak punya nilai gizi sama sekali.

Aku menyukai Lutfi, dan aku tidak ingin dia kenapa-kenapa. . Merokok adalah hal yang buruk. Benar begitu kan? Aku meyakinkan diri bahwa tindakan yang kulakukan sudah benar. Lutfi masih punya masa depan, dan rokok bukan hal yang bagus untuknya.

Sayang sekali Lutfi tidak berpikir begitu. Dia rupanya menganggap tindakanku sebagai penghinaan pribadi. Lutfi menemukan momen untuk balas dendam padaku di latihan Pramuka kali berikutnya.

Di suatu siang yang panas, kami diajari membuat tandu darurat dari tongkat dan tali, dan sedari awal Lutfi sudah mulai mencari-cari kesalahanku.

"Ikatan simpulmu tidak benar. Bukankah sudah kubilang untuk memulainya dengan simpul pangkal, bukan simpul jangkar?"

Aku sama sekali tidak melihat bedanya kedua simpul ini. Apakah orang yang kutandu akan peduli dengan simpul apa tandu itu dibuat? Tidak kan? Tapi Lutfi tetap menyeretku ke pinggir lapangan. Dia membuatku berteriak keras-keras seperti orang bodoh dan sebisa mungkin memaksaku berpikir bahwa aku orang yang tidak berguna.

"Aku berjanji akan lebih menghargai seniorku!" Aku berteriak.

"KURANG KERAS!" seru Lutfi.

"AKU BERJANJI! AKAN MENGHARGAI PERINTAH SENIORKU!"

"Lebih keras lagi!!!!"

Tenggorokanku benar-benar serak. Aku membenci kegiatan konyol ini. Lutfi semata-mata mencari kesalahanku hanya untuk mempermalukanku. Anak-anak yang lain tertawa sementara aku dihukum, lebih lama dari yang lain.

"Kau mencari masalah dengan orang yang keliru," geram Lutfi di tengkukku.

Tidak berhenti sampai disitu.

Ketika makan siang, Lutfi menahanku dan memaksaku untuk membuka kotak bekal yang kubawa.

"Kupikir selai stroberi tidak bagus untuk gigimu. Terlalu manis. Kau harus makan sesuatu yang lebih bergizi,"

Ia menyeringai. Bibirnya mengulum senyum, tapi matanya berkilau jahat. Lutfi mengeluarkan kotak bekal berisi salad sayur miliknya, berupa potongan kubis, wortel dan brokoli. Menjijikkan sekali. 

"Biar ini buatku." Dia merebut roti isi tiga lapis dengan selai stroberi yang kusiapkan khusus untuk bekal Pramuka.

Beraninya dia? Pikirku. Tak ada yang boleh mengusik makan siangku, bahkan seandainya dia Kakak Pembina Pramuka favoritku sekalipun. Aku benar-benar marah. Aku berhenti menyukainya pada detik itu juga.

Tapi nyatanya tidak ada yang bisa kulakukan, kecuali memakan salad itu dengan lesu. Aku mencoba menghibur diri setelah tiga suapan. Memang sih, salad ini tidak seenak roti selai stroberiku, tapi setidaknya makanan ini bergizi.

Ketika aku pulang, leherku kaku akibat terlalu banyak berteriak. Aku memijit pangkal tenggorokanku, dan mau tak mau berpikir bahwa yang dilakukan Lutfi sudah keterlaluan.

Berapa banyak sih korek miliknya yang kuambil? Kan aku melakukannya karena aku peduli dengan kesehatannya. Aku tidak mempermalukannya di depan teman sekolahnya atau mengadukannya kepada guru.

Ketika kupikir keadaannya tidak bisa bertambah buruk, rupanya aku keliru. Ibuku ternyata berpikir bahwa masuk kamarku tanpa izin adalah ide cemerlang. 

Dia sudah menghadangku begitu aku kembali ke rumah sepulang latihan.

"Faris! Kamu ngrokok ya? Ibu nemu banyak korek api di kamarmu," Aku melihat Ibuku diliputi aura gelap. Itu bukan pertanda yang bagus.

"Ibu nggak habis pikir, kamu kenapa sih?"

Aku semakin pusing mendengar suara meleter milik Ibuku.

 "Ibu, Faris pusing. Korek itu bukan punya Faris. Besok aku jelasin," kataku.

Aku berjalan melaluinya.

"Heh, mau kemana kamu? Sini!"


Menjelang malam, setelah dengan sia-sia aku menjelaskan bahwa korek-korek itu bukan milikku, Ibuku menceramahi bahwa seandainya aku ketahuan merokok, tanpa belas kasihan dia akan memotong uang jajanku hingga lima puluh persen. Padahal selama ini uang sakuku sudah minim. Ibu sama sekali tidak memercayai satupun kalimatku.

Ibu telah memasukan berbagai korek api warna-warni milik Lutfi ke tempat sampah di luar, tapi aku memungutinya begitu ia tidak melihat. Aku mengusap-usap debu tanah dari satu-satunya korek yang berhasil kuselamatkan, dan berpikir bahwa pada suatu waktu, Lutfi pernah memegangnya. Aku menyimpan korek itu di kamar. ()

Readmore → Strawberries & Cigarettes, P2

Strawberries & Cigarettes, P1

Strawberries & Cigarettes

by @AntonErl
.
.

Ada yang salah dengan ekstrakurikuler pramuka di sekolah kami. Salah seorang kakak pembina-nya adalah laki-laki yang diam-diam suka merokok. Aku sering memergokinya di koridor lantai tiga yang sepi. Tempat itu menghadap langsung pada lapangan bola di Selak. Dia sering nonton bola dari atas sana, sambil menyesap rokok.

Nama laki-laki ini Lutfi. Yah, itu memang haknya kalau dia ingin merokok sih. Sayangnya dia adalah laki-laki yang kusukai di sekolah. Aku membencinya karena dia begitu menikmati rokok. Aku ingin dia mengubah kebiasaannya ini, untuk kebaikannya sendiri.

Sedikit demi sedikit.

Suatu hari aku nekat mengambil koreknya. Aku tahu dimana dia menyembunyikannya, karena dia takkan mungkin menyimpan benda itu di tas sekolah. Terlalu beresiko. Aku mendahuluinya datang ke koridor lantai tiga untuk mengambil korek yang ia sembunyikan di belakang papan mading. Koridor itu adalah jalan menuju lab komputer dan lab bahasa yang hanya digunakan di saat tertentu.

Hal ini berhasil selama beberapa waktu. Walau ia sering memindahkan koreknya ke tempat lain sejak pencurian yang pertama, aku selalu berhasil menemukannya. Tapi suatu hari aku telat karena membeli stroberi plastikan yang dijual pedagang buah yang mampir di luar gerbang sekolah. Aku lari ke koridor lantai tiga, tapi saat aku berbalik sudah ada Lutfi yang menangkap basah perbuatanku.

"Jadi kau yang sering nyolong korekku, eh? Dasar anak setan." Lutfi terlihat marah. Dia melihatku memegang korek. Aku tidak ingin merasa takut. Walau kedengaran konyol jika aku yang mengatakannya, tapi kebenaran harus ditegakkan.

"Kalau iya, kenapa?" Aku menantangnya. Aku mencoba membuat diriku terlihat segarang mungkin. Aku tak ingin merasa gentar.

"Balikin, itu punyaku goblok,"

"Nggak! Kau nggak boleh merokok di sekolah!"

"Siapa yang peduli?"

"Aku peduli!"

"Trus kau mau apa? Lapor kepsek?"

Lutfi berjalan mendekatiku, tatapannya begitu mengintimidasi sementara aku berjalan mundur. Aku terpojok karena ujung lain koridor tiga adalah jalan buntu. Hatiku mencelos. Tak ada jalan keluar.

"Kau harus hidup lebih sehat! Kau harus lebih sering makan buah," kataku, sedikit panik. Aku menyodorkan stroberi plastikan yang kubeli tadi.

Lutfi diam saja. Ia tidak menggubris ucapanku. Tanganku yang terulur kutarik kembali. Dia berjalan maju menghimpitku. Jarak kami kini hanya berselang tiga meter.

"Akan kukembalikan korekmu, tapi kau harus berjanji untuk berhenti merokok. Deal?" Aku mulai takut karena Lutfi kini sudah dekat sekali.

"Berisik." katanya, nyaris berbisik.

Selama sedetik aku lupa caranya berpikir. Orang bilang, jatuh cinta membuatmu melakukan hal bodoh. Mungkin itu yang kulakukan sekarang. Aku telah bertindak bodoh. Tapi aku tidak peduli.

Selama tujuh belas tahun aku hidup, belum pernah aku sedekat ini dengan Lutfi. Pada jam-jam latihan Pramuka di lapangan Selak, dimana dia mengajar anak-anak mendirikan tenda atau baris berbaris, sekalipun belum pernah Lutfi memperhatikanku. Tapi dia ada disini sekarang, tepat di depanku.

Dia baru akan bilang sesuatu, nafasnya yang berbau permen mint (kemungkinan Relaxa) tercium hingga indera penciumanku. Aku langsung bereaksi. Aku menerjang Lutfi hingga dia sedikit terjengkang.

Lutfi tidak mengira kalau aku akan berani menabraknya.

Aku membawa kabur korek api Lutfi dan membanting benda itu di depan matanya hingga korek itu pecah.

Aku mencintaimu, Lutfi, aku mencintaimu. Maaf. Aku harus melakukannya.

Rasanya menyakitkan sekali, melakukannya. Dia akan membenciku, tapi lebih baik begitu.

"Jangan menjadikan rokok sebagai pelarian. Kau harus menghadapi masalahmu!" kataku sebelum berlari pergi.

Aku sempat meletakkan stroberiku di hadapannya, sebagai ganti rasa bersalah, dan tidak berbalik lagi.

()

Readmore → Strawberries & Cigarettes, P1

29 Desember 2019

Cinta Pertamaku, Selamat Siang (Part 3)

Hendra naik bus dengan lesu. Ia benci sekali harus berdesak-desakan dengan ibu-ibu dan anak perempuan yang menurutnya menyebalkan. Tapi demi arwah Ibunya, demi masa depannya, dan demi secuil harapan untuk memperbaiki nilai ulangannya, Hendra tahan keinginannya untuk mengeluh. Bangun pagi-pagi buta pun ia lakukan dengan tekad yang bulat.

Setelah semua usahanya ini, jika Hendra masih dihukum karena datang terlambat, ia akan mengakhiri semuanya. Hendra akan berhenti sekolah dan memilih berjualan es serut seperti kemarin. Jika bukan karena kakeknya yang menginginkan agar ia sekolah, mana sudi Hendra memakai seragam almamater yang amat dibencinya.

Jika bukan karena memakai seragam itu, dan menjawab pertanyaan dungu tentang mengapa ikan bernapas dengan insang, Hendra mungkin masih akan melihat ibunya untuk terakhir kali. Ibu Hendra yang sakit-sakitan meninggal tepat saat Hendra dalam pertengahan ujian. Hendra diberitahu tetangga yang menjemputnya dan pulang saat itu juga, menemukan ibunya terbaring kaku ditemani para pelayat. Masa bodoh dengan nilai-nilai ulangannya. Persetan dengan alasan kenapa ikan tidak bisa bernapas dengan paru-paru. Apa bedanya bagi Hendra? Ibunya tetap meninggal, dan Hendra tidak disana untuk mendengarnya bicara untuk terakhir kali. Semuanya sudah terlambat.

Bus yang ditumpangi Hendra berhenti tepat di pertigaan. Semester baru akan dimulai dan Hendra diminta untuk hadir di ujian susulan atau ia bakal dikeluarkan dari sekolah. Hendra mencoba mengingat wajah ibunya untuk membuatnya merasa lebih baik. Diasta mempunyai wajah yang teduh. Sayang sekali Hendra tak akan melihatnya lagi.

Seorang pengamen menyanyikan lagu Kuil Cinta milik Slank di jalanan. Seolah ditarik, Hendra refleks menoleh pada seorang berwajah rupawan yang naik sepeda dan berhenti di pertigaan menunggu lampu merah. Hendra merasa pernah melihat wajah itu. .

Lalu Hendra terbelalak. Ingatan akan kejadian siang kemarin memenuhi bayangannya. Itu adalah anak yang tempo hari membeli es serut Hendra. Anak yang ditatapnya dengan tidak sopan. . anak yang mencuri perhatiannya. Hendra merasa jantungnya berdegup kencang. Wajahnya yang tampan membuatnya tidak susah dikenali.

Hendra bertanya-tanya, kira-kira dimanakah anak itu bersekolah. . ia tidak bisa yakin. Dia memakai seragam yang sama sekali belum pernah dijumpai Hendra di sekolah manapun di Surabaya. Saat Hendra akan melihat lebih jelas, lampu lalu lintas telah berubah jadi hijau dan bus yang ditumpangi Hendra meluncur mulus di jalanan Surabaya yang padat, mendahului pengendara lain. Hendra kehilangan pandangannya pada anak itu dan mengumpat keras-keras.

(bersambung)
Readmore → Cinta Pertamaku, Selamat Siang (Part 3)

Cinta Pertamaku, Selamat Siang (Part 2)

Riki terbangun dari tidurnya. Di kamar barunya ini ia merasa aneh, karena Riki sangat jarang tidur dengan AC. Di Magelang sana, kota dimana Riki berasal, udaranya sedikit lebih dingin. AC nyaris tidak pernah dinyalakan saat malam. Tapi mulai hari ini ia harus terbiasa, karena selama sebulan kedepan kamar itu akan menjadi miliknya.

"Selamat pagi, Budhe." ucap Riki pada kakak ibunya begitu ia turun. Ini juga kebiasaan baru Riki untuk beramah-tamah, karena ia hampir-hampir tidak pernah berucap begitu pada ibunya sendiri.

"Aneh rasanya kau manggil aku begitu." kata Indar. 

Riki hanya nyengir. Ia tidak begitu kenal budhe-nya. Riki pindah ke Surabaya selama sebulan penuh untuk mengikuti pertukaran murid, dan beruntung sekali Riki punya budhe yang tinggal sendirian dan mau memberinya tumpangan.

"Kan sudah kubilang, panggil saja Mbak Indar. Aku cuma lebih tua setahun dari Ibumu." terang Indar.

"Oke, mbak." Riki menjawab.

Agak susah menghilangkan gambaran "Budhe Indar" karena selama ini, yang ada dalam benak Riki budhe-nya adalah seorang wanita berdaster yang banyak bicara. Riki sempat mengira ia salah rumah ketika pertama kali datang sore kemarin. Ternyata Indar yang selama ini digembar-gemborkan orangtuanya adalah seorang wanita menyenangkan. Riki lega karena ia tidak harus menghadapi sebulan penuh penderitaan bersama seseorang yang gemar mengkritiknya. Riki bahkan dibebaskan untuk membawa teman dan pulang kapanpun ia mau. Ia telah diberi satu set kunci duplikat seluruh pintu rumah begitu ia menginjakkan kaki di kamarnya untuk pertama kali.

"Sepedanya di depan ya, Riki. Bannya kamu pompa sendiri bisa 'kan?"

"Bisa, mbak Indar." Riki merasa panggilan itu memang lebih cocok untuk budhenya, tapi lalu ada yang menganggu pikirannya. "Terus kalau aku naik sepeda, mbak Indar berangkat kerja pakai apa? Naik gojek?"

"Haha, nggaklah. Aku kan biasa pakai sepatu roda. Tuh," Indar menunjuk sepasang sepatu yang tergantung tepat di luar kamar tidurnya.

"Wah, keren." respon Riki. Betul, pikirnya, budhe Riki memang keren.


Setengah jam kemudian Riki sudah berada di sepedanya dalam perjalanan menuju sekolah. Ketika berhenti di lampu merah, dari dalam bis seseorang mengamatinya dengan mata terbelalak.

(bersambung)

Readmore → Cinta Pertamaku, Selamat Siang (Part 2)

28 Desember 2019

Cinta Pertamaku, Selamat Siang

Jalanan Surabaya yang biasanya panas mendadak terasa teduh. Bukan karena saat itu musim hujan, bukan juga karena Hendra memakai sunblock SPF 150 yang harganya melebihi dua kali makan siangnya. Tapi karena saat itu ada seseorang rupawan yang lewat, dan Hendra yakin ia belum pernah melihat cowok setampan itu.

Riki, yang baru turun dari motor gojek tumpangannya merasa tidak nyaman karena ditatap sedemikian rupa oleh seseorang yang tidak dikenalnya.

"Ada masalah?" Riki bertanya seketika.

"Ah!"

Hendra yang baru sadar dari trans-nya terkesiap. Ia kaget karena cowok barusan punya suara yang tajam, sangat jauh dari kesan penampilannya.

"Maaf. Aku cuma penasaran apakah kau ingin membeli es serut—" Hendra langsung menawarkan dagangannya, mencari alasan. Ia kaget lagi karena Riki menjawab, kini dengan lebih tenang. 

"Boleh."

Riki yang ditawari es serut sedikit melunak. Ia memang haus sedari tadi. Setelah ditatap dengan tidak sopan, menikmati es serut dingin yang cukup murah ternyata bukan pilihan yang buruk.

Setelah selesai Riki mengembalikan mangkuknya.

"Trims." katanya sedikit angkuh.

Begitu membanting pecahan lima ribuan di konter Hendra, Riki langsung pergi. Hendra masih terngiang-ngiang oleh pesona cowok itu berjam-jam kemudian. Ditatapnya uang pemberian Riki tadi. Harum. Entah apa yang dilakukan anak itu pada uangnya. Ketika akhirnya Hendra pulang, dan selesai dengan dagangannya, Hendra berbaring di kosannya dan menatap langit-langit. Akankah Hendra bertemu lagi dengan siapapun dia yang mencuri perhatiannya?

(bersambung)


Readmore → Cinta Pertamaku, Selamat Siang